Dusta di atas kereta

     Aku adalah pecinta kereta. Sebagai orang yang suka bepergian, atau “keluyuran” – (baca -tanda kutip keluyuran- :p) aku menyukai transportasi murah semacam bis dan kereta sebagai alternatif bila kondisi kantong sedang tak bersahabat untuk menumpang “montor molok” alias pesawat terbang.

     Beberapa minggu yang lalu ketika aku sedang berada di Mataram, aku pun mewujudkan keinginan  yang sudah lama terpendam – menjelajah pulau Sumbawa. Seandainya ada kereta trans-Sumbawa pasti aku akan memilih untuk naik kereta. Berhubung angkutan masal itu belum tersedia, maka bis malam menjadi pilihan utama.

     Banyak keunikan – disamping capek pastinya, khusunya bila jarak jauh – yang didapat  saat bepergian dengan bis atau kereta yang tak bisa didapatkan jika kita bepergian dengan pesawat. Sapaan ramah para penumpang lain, misalnya. Di perjalanan Mataram – Bima yang memakan waktu 12 jam saat itu, para penumpang – termasuk aku- ramai mengobrol saling bertukar cerita layaknya sudah saling mengenal sejak lama.

     Obrolan semakin seru saja karena di dalam bis yang aku tumpangi itu ada seorang turis cewek asal Perancis. Tania. Duduknya tak jauh dari tempat dudukku. Sedangkan agak di belakang ada juga turis cowok dari Canada, Tom, begitu nama panggilannya. Sepanjang perjalanan Tania yang memang cantik itu  diajak ngobrol oleh para penumpang di sekitarnya. Tania, yang selalu membawa kamus popular Bahasa Indonesia di tangannya ini berulangkali mencari kata dalam kamusnya untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan yang tak dia mengerti. Dia sangat lega ketika aku – setiap kali melihatnya kesulitan menemukan arti suatu kata- selalu membantunya.

     Nah, jika naik pesawat tentu kita tak akan bisa sebebas dan seramai seperti dalam bis ini bukan?

     Naik kereta juga begitu. Tidak ada yang melarang jika kita menelpon dengan suara keras demi bisa meningkahi deru roda kereta. Disaat kereta penuh sesak, penumpang bisa bergelayutan sambil mengobrol atau main HP dengan santainya. Lebih gilanya lagi, di atas kereta jabotabek khususnya, jangan sekalipun heran bila melihat penumpang saling menyandar di punggung penumpang lainnya, bahkan ada yang pulas mendengkur di tengah-tengah pengapnya himpitan ketiak penumpang lainnya!

     Kejadian-kejadian tadi dalam mimpi pun tak akan pernah kita temukan dalam perjalanan dengan pesawat.  Yang ada para penumpang diam dan taubat. Yang terdengar hanya deru mesin yang deselingi beberapa kali pengumuman hikmat oleh awak pesawat.

     Kembali ke kalimat awalku. Aku adalah pecinta kereta. Beberapa hari yang lalu pergilah aku dengan kereta menuju Jakarta arah Palmerah untuk menyaksikan sebuah acara di Bentara Budaya. Kepergianku dengan kereta commuter line Bogor – Jakarta kali ini adalah kepergian yang terjadi setelah beberapa lama aku tak lagi menggunakan jasa kereta untuk berangkat dan pulang kerja. Maka aku sangat bersemangat dengan harapan semoga sudah terjadi banyak perubahan dengan transportasi rakyat ini.

    Dulu, beberapa tahun yang lalu aku adalah penikmat setia kereta jabotabek. Meskipun susah payah untuk bisa masuk dengan selamat kedalam, aku tetap setia. Meskipun seringkali stress dan kecewa sampai tua dibuatnya karena seringnya terlambat atau mogok di tengah jalan, aku tetap setia. Tetapi, lama-lama aku pikir aku membutuhkan jedah untuk beberapa saat menjauh dari kereta,, untuk  berganti suasana. Bukan berarti aku tak lagi cinta.

    Nah, beberapa hari yang lalu di dalam rangkaian besi itu aku melaju. Kereta berangkat pukul sembilan tigapuluh pagi waktu Indonesia Bagian Barat. Bukan jam sibuk orang berangkat bekerja. Maka selama keberangkatan, tiada halangan yang berarti – meski menunggu lama itu soal biasa – yang penting  aku tiba di tempat tujuan dengan selamat, baik badan maupun bawaan.

     Saat perjalanan pulang, lainlah cerita. Luka lama itu mulai terasa. Stress dan kecewa berat oleh pelayanan yang amat buruknya.

     Alkisah hari itu hari Kamis. Kebetulan aku sedang berpuasa sunah. Karena sedang berpuasa aku pun mewanti-wanti diriku untuk pulang tidak lebih dari pukul empat sore. Kuperkirakan perjalanan pulang akan memakan waktu dua jam, maka pukul enam sore aku berharap sudah tiba di rumah.

     Tetapi takdir menghendaki lain.

     Pukul tiga lewat tigapuluh menit aku sudah berada di Stasiun Palmerah menunggu kereta dari Serpong menuju Tanah Abang. Setelah kurang lebih dua puluh menit aku menunggu, kereta ekonomi tujuan Tanah Abang itu pun datang. Lega, tak banyak penumpang meskipun itu kereta kotornya bukan kepalang.

   Sesampai di Stasiun Tanah Abang, penderitaan lama itu makin terasa. Di sana, di stasiun itu. Penumpang; mulai dari tua, muda, remaja dan anak-anak kecil “tumplek-blek”  di stasiun kumuh itu. Ada yang berdiri sambil memainkan HP untuk menghibur diri, ada yang berjongkok dengan mata memicing seperti menahan hajat, ada yang duduk di atas barang belanjaannya sambil sebentar-sebentar berdiri mungkin untuk membuang gas, ada yang menggelosot begitu saja di atas lantai yang keras, sekeras otot di wajahnya. Yang nasibnya sedang mujur bisa duduk di beberapa bangku yang disediakan sambil terkantuk-kantuk. Pemandangan sore yang mengenaskan.  

     Penderitaan penantian itu semakin lengkap saat pengeras suara mengumumkan bahwa kereta tujuan Bogor adanya pukul lima! Pukul lima! Alamaaak!!! Punahlah harapanku untuk bisa berbuka puasa di rumah. Tetapi baiklah bila memang begitu. Bukankah aku adalah pecinta kereta. Tetap kan kutunggu kedatanganmu.

    Penumpang semakin membludak. Jam tanganku menunjukkan pukul empat lewat duapuluh lima menit. Lima menit kemudian kereta commuter tujuan Depok datang.

     Apa aku naik ke Depok ini saja dulu, pikirku. Di Depok nanti turun dan berganti kereta lagi menuju Bogor. Ah! Aku ragu-ragu. Berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, kereta jabotabek seringkali bermain-main dengan waktu. Maka aku tetap memilih kereta yang langsung menuju Bogor.

     Kereta tujuan Depok pun berhenti. Tampak di dalamnya sudah ramai penumpang dari beberapa stasiun sebelumnya. Begitu pintu terbuka……seakan dikomando…..serbuuuuu!!!! Penumpang yang turun dan yang naik saling berebut mendahului, ada yang berteriak memaki mungkin kakinya terinjak, ada yang berteriak mengancam mungkin dompetnya terasa ada yang mencopet. Tak kalah gaduh adalah tangis anak-anak kecil yang terjepit…tertarik dan terhimpit dalam desakan manusia-manusia dewasa itu!!!

     Aku menghela napas panjang. Tak sanggup menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa keras perjuangan para penumpang kereta di Jakarta. Sejenak teringat akan nyaman dan tertibnya penumpang saat aku bepergian dengan naik kereta  di Thailand. Tak nampak polisi atau satpam berjaga, tetapi penumpang demikian teraturnya. Sementara di setiap stasiun di Jakarta tampak para penjaga berseliweran di mana-mana, namun keselamatan dan kenyamanan penumpang layaknya hanya tontonan. Oh, kereta! Oh, Jakarta!

    Melihat pemandangan perebutan kursi itu membuat tubuhku makin lunglai saja. Dengan lemas aku berjalan menuju bangku yang diduduki oleh seorang lelaki berotot, tentu dengan harapan dia akan berdiri dan memberikan tempat duduknya untukku. Namun sia-sia saja aku berharap. Meski mukaku sudah kubuat semelas mungkin, nampaknya dia bukan tipe lelaki sejati – yang mudah tahu diri, yang akan dengan jantan mempersilahkan wanita yang sengaja memepet-mepetkan tubuhnya sebagai tanda sangat menginginkan tempat duduknya. Tetapi, baiklah. Kau memang bukan lelaki sejati. Kataku dalam hati.

     Aku lalu berjalan sedikit  ke ujung, ke tempat dimana gerbong khusus penumpang wanita berada. Di kereta commuter sekarang, dua gerbong bagian depan dan dua gerbong di belakang dikhususkan untuk penumpang wanita. Teorinya. Pada kenyatannya tak jarang dijumpai lelaki juga di dalamnya– yang pasti jenis lelaki yang setipe dengan lelaki yang duduk di bangku tadi, jenis lelaki yang telah rela membuang atribut rasa malunya di hadapan para wanita.

     Pukul lima lewat duapuluh kereta tujuan Bogor yang kutunggu-tunggu itupun  tiba. Penumpang berjubel karena jam-jam ini adalah jam pulang para pekerja. Seperti penumpang lain aku berjuang untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Aku mendesak-desak untuk bisa masuk kedalam. Aku harus duduk dan tidur, tekadku. Menyadari betapa lelah dan laparnya aku. Aku bisa pingsan bila harus berdiri lagi dalam kereta sampai Bogor!

     Alhamdulillah! Aku dapat duduk. Kusandarkan tubuh dan kepalaku untuk siap-siap tidur. Belum lama kucoba menikmati sedikit kenyamanan ini, tiba-tiba seorang perempuan sambil memegang perutnya berdiri di hadapanku dan berkata, “Maaf, saya mau duduk!”

     “Enak saja, baru datang tiba-tiba minta duduk..” Kataku dalam hati.

     “Maaf, Bu…tempat duduk di deretan itu untuk Ibu hamil” Seorang bertugas berkata.

    Uppss! Aku celingukan karena baru tersadar dimana aku duduk. Untungnya seorang gadis yang duduk di sebelahku dengan spontan berdiri untuk memberikan tempat duduknya pada wanita hamil yang perutnya belum seberapa besar itu. Aman sekarang, aku bisa tidur, kataku dalam hati. Aku pun mencoba tidur sambil menahan lapar dan haus.

    Di setiap stasiun pemberhentian, penumpang selalu bertambah. Dan setiap kali pula terdengar suara petugas meminta kesediaan penumpang lain untuk berdiri bila ada perempuan hamil naik.

     Di Stasiun Manggarai, kereta semakin padat. Napas pun terasa susah. Meski tak bisa tidur aku tetap memejamkan mataku.

     “Bu, maaf… Ibu hamil? “ Suara petugas menegur sambil mencolek bahuku. Aku tersentak dan dengan serta merta aku menjawab, “Ya.” Lalu kupejamkan mataku lagi sambil makin mempererat dekapan tasku ke perutku. Aku hamil? Kataku geli meskipun merasa bersalah juga.

     Stasiun Tebet.

     “Bu, Ibu hamil ya?” Kembali ada yang menegurku, kali ini bukan suara petugas, suara seorang penumpang.

     “Ya, saya hamil..” Kataku dengan nada meyakinkan sambil kembali memejamkan mata. Kurasakan badanku benar-benar lemah. Sungguh! Maafkan aku duhai para wanita, aku terpaksa berdusta.

     Dalam hati aku merasa heran juga, banyak sekali wanita hamil yang bepergian dengan kereta ya.

     Hingga kereta mulai memasuki Bogor,  baru aku mulai berani membuka mataku. Beberapa pasang mata menatapku. Semakin lemaslah aku. Tatapan-tatapan itu seakan menuduhku…..”Sepertinya kamu tidak hamil deh….!” Perasaanku galau. Untunglah,  tubuhku sedikit gemuk saat-saat liburan ini, setidak-tidaknya tampak subur seperti sedang hamil muda. Semoga begitu.

     Dusta tetaplah dusta. Aku tetap bersalah. Tetapi saat itu aku sungguh tak berdaya.

     Aku memang pecinta kereta. Tetapi kereta di Jakarta seringkali membuatku benar-benar tak berdaya. Oh, kereta! Oh, Jakarta!

 

Sebuah catatan perjalanan,

Ayu, Bogor, 14 Juli 2012

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s