Guru di Taman Hatiku (Untuk Ibu Nani – My SMP teacher)

Aku tak pernah lupakan hari itu. Hari paling berarti dalam hidupku sebagai seorang murid sebuah sekolah menengah pertama. Selalu terngiang kata-kata itu. Kata-kata yang membangkitkan semangat dan menginspirasiku sebagai remaja yang baru tumbuh. Duhai guruku, entah dimana kini adamu, kau selalu berdiam di taman hatiku.

     Siang itu Bu Nani, guru Bahasa Indonesiaku memberi tugas menulis sebuah karangan. Samar-samar kuingat temanya tentang persahabatan. Maklumlah, kejadiannya sudah dua puluh tahun yang lalu. (Sssst, !!! Tak perlu langsung bertanya – berapa usiaku sekarang ya – tidak penting dan tak ada hubungan apapun  dengan tulisan ini – jadi sebaiknya terus baca saja☺). 

    Kutulislah sebuah karangan dan segera kukumpulkan. Ibu Nani memeriksa karangan kami satu persatu dan meminta kami membacakannya di depan kelas. Jaman itu belum ada model mengajar “writing conference”. Jadi guru memeriksa dengan dua macam ekspresi wajah;  manggut-manggut atau berhenti sejenak dengan raut muka dan mata memicing. Yang pertama jelas menandakan dia suka dengan jalan cerita, sementara yang kedua….pasti dia sedang berjuang untuk memahami cerita yang tak jelas ujung pangkalnya. 

     Satu persatu teman-temanku maju untuk membacakan ceritanya. Aku deg-degan karena namaku tak juga dipanggil, padahal aku mengumpulkan karanganku tepat pada waktunya. Wah, jangan-jangan ceritaku yang membuat Bu Nani memicing-micingkan matanya tadi. Dan Bu Nani tidak memanggilku karena mungkin kuatir akan membuatku malu dan kelas akan gaduh dan riuh karena ruwetnya karanganku. Ya sudahlah Aku menunduk sambil menggigit-gigit kuku-kuku jari tanganku. (Jorok ya?!- jangan ditiru!)

     Saking gugupnya aku, aku tak bisa ikut tertawa ketika salah satu temanku membacakan ceritanya dengan gaya lucu. Masih terdengar cekikikan disana-sini ketika kudengar Bu Nani memanggil namaku. Dengan gemetar aku maju kedepan sambil bertanya-tanya kenapa dia meletakkan karanganku di tumpukan paling bawah. Ah. Sudahlah. 

     Akupun membacakan karanganku. Selesai membaca, teman-teman bertepuk tangan sama seperti ketika yang lain selesai membaca. Jadi bukan hal yang istimewa. Tetapi yang berbeda adalah ketika Bu Nani tiba-tiba mendekatiku, memegang pundakku, mengambil karanganku dan membaca bagian-bagian tertentu dari karanganku. Disebutnya bahwa alur ceritaku menarik dan karakter didalamnya begitu kuat. Aku tersenyum malu-malu karena sebenarnya karakter dalam karanganku itu adalah diriku sendiri yang aku beri nama lain. Tetapi aku tak bisa menyembunyikan rasa berbunga-bunga di hatiku.

     Theng! Theng! Bel istirahat tak terasa berbunyi. Satu persatu temanku keluar meninggalkan ruangan. Ketika aku merapikan mejaku, aku pikir Bu Nani pun sudah meninggalkan ruangan. Ternyata beliau sedang berdiri di samping mejaku. 

   “Ya, Bu?!” Kataku dengan wajah masih bersinar cerah.

   “Karanganmu bagus. Kamu punya bakat menulis. Kembangkan ya…”.

   “Terimakasih, Bu.” Jawabku sambil memandangi Bu Nani yang keluar meninggalkan ruangan. Aku termangu sejenak dan kembali membaca karanganku. Karanganku bagus? Tanyaku dalam hati.

     Entah sungguh baguskah karanganku atau Bu nani yang pandai menumbuhkan semangat dalam hati murid-muridnya. Yang jelas aku tak pernah melupakan kata-kata itu. Kata-kata itu begitu kuat terpatri dalam hatiku seperti sosok sederhana Bu Nani guruku. 

     Cerita ini membuatku merenung. Betapa seorang guru bisa membuat perbedaan dalam kehidupan seorang murid. Karena sejak itu aku jadi sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan selalu bersemangat menantikannya.

     Kini akupun seorang guru dan telah bertahun-tahun menekuni profesi ini. Adakah aku telah membuat perbedaan dalam hati anak-anak yang pernah menjadi muridku? Ataukah aku sekedar menyampaikan pelajaran tanpa sempat melihat potensi sekecil apapun yang mungkin mulai bersemi dalam diri seorang muridku? 

     Guru-guru seperti sosok Bu Nani adalah inspirasi yang tak kan lekang oleh waktu. Dan anak-anak membutuhkan guru-guru seperti itu. Guru yang mampu melihat sisi baik sekecil apapun dan menjadikannya alat untuk membangkitkan semangat. Guru sejati akan mendiami taman di hati. 

     Akhir cerita, sejak itu aku benar-benar menyukai pelajaran Bahasa  Indonesia – hingga aku SMA. Lalu kuliah mengambil jurusan Bahasa Inggris. La koq ndilalah kersaning Gusti Allah, sekarang itu loh aku jadi guru Bahasa Indonesia. What a life!!! SELAMAT HARI GURU! 

  

 

Catatan kecil-ku

 

Ayu, Nov 25, 2012. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s